Puncak Milad ke-24, PKS Dompu Gelar Napak Tilas
DOMPU - Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) Kabupaten Dompu menggelar kegiatan Napak Tilas dalam rangka Milad ke-24 PKS sebagai momentum memperkuat semangat perjuangan dan menyambungkan kembali mata rantai dakwah dari generasi ke generasi.
Kegiatan yang berlangsung penuh kekeluargaan dan nuansa perjuangan tersebut menghadirkan Ketua-ketua DPD PKS Dompu periode pertama sampai periode keempat. Hadir pada kesempatan tersebut H.Hendri Atrimus, MBA, Buhri Ramadhan, ST., Muhamad Tahir, ST, Ketua dan Sekretaris Bidang DPD PKS Dompu, Anggota Pelopor, Anggota Penggerak, dan Simpatisan PKS.
Pada kesempatan tersebut Ketua-ketua DPD PKS Dompu dari generasi yang berbeda berbagi cerita, pengalaman, serta dinamika perjuangan dalam membangun dakwah di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan zaman.
Ketua DPD PKS Dompu Noval Palandi, SP dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni atau ajang untuk mengenang masa lalu saja, melainkan momentum penting untuk menghadirkan kembali ruh perjuangan dakwah yang telah dibangun dengan pengorbanan besar.
“Hari ini bukan hanya tentang berkumpul dan mengenang masa lalu. Tetapi hari ini adalah momentum untuk menyambungkan kembali mata rantai perjuangan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh capaian dakwah yang dirasakan hari ini merupakan hasil dari perjuangan panjang para kader terdahulu yang bekerja dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan.
“Setiap langkah dakwah yang kita lihat hari ini, setiap struktur yang berdiri hari ini, setiap kader yang tumbuh hari ini, semuanya memiliki jejak perjuangan yang panjang di belakangnya,” lanjutnya.
Dalam kegiatan Napak Tilas tersebut, para peserta diajak memahami bahwa dakwah tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang yang diisi dengan pembinaan, pengorbanan, dan keteguhan menjaga amanah perjuangan.
Milad ke-24 PKS juga dimaknai sebagai momentum untuk mengingat kembali perjalanan panjang dakwah yang dibangun dengan air mata, tenaga, waktu, dan pengorbanan yang mungkin tidak diketahui banyak orang selain Allah SWT.
Melalui forum itu, para kader mendapatkan kesempatan mendengar langsung kisah perjuangan para pendahulu tentang bagaimana dakwah dirintis dalam keterbatasan, bagaimana struktur dibangun perlahan, bagaimana kader dibina satu demi satu, hingga bagaimana perjuangan tetap bertahan melewati berbagai ujian zaman.
Diakhir dirinya berharap kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan ruhiyah, militansi, dan estafet kepemimpinan agar semangat perjuangan dakwah terus hidup dan terjaga dari generasi ke generasi.
“Dakwah ini dibangun oleh orang-orang yang bekerja dalam diam. Mungkin tidak banyak disebut namanya, tetapi besar pengorbanannya di sisi Allah SWT,” tutupnya.